Anarkisme, Penyelesaian Masalah dengan Masalah, Sampai kapan?”

Alanwarpos.com – Supri (40) dilarikan ke Rumah Sakit setelah baru saja dibacok oleh tetangganya sendiri, Hari (45). Menurut cerita yang beredar di masyarakat, Hari marah terhadap Supri karena Supri melaporkannya pada polisi tentang penganiayaan dilakukannya pada Anas, keluarga Supri sehari sebelumnya. Penganiayaan itu sendiri terjadi akibat buntut panjang masalah hutang piutang Hari dan Anas. (nama-nama diatas merupakan nama samaran)

Meskipun intensitasnya mulai turun beberapa dekade terakhir. Kejadian serupa masih kerap terjadi di masyarakat desa di Madura. Masalah hutang, keluarga dan harga diri, merupakan alasan lama yang kiranya masih berlaku untuk menghalalkan tindakan kriminal sebagai penyelesaian. Patut disayangkan, di era milenial, mulai majunya tingkat pendidikan, serta maraknya kampanye perdamaian ini, kasus serupa masih saja bermunculan.

Hadirnya Undang-undang, baik dalam bentuk aturan yang mengikat seperti hukum pidana dan perdata maupun dalam bentuk himbauan dan lain sebagainya, sebenarnya untuk menjaga hak warga negara Indonesia dari penyalahgunaan tindakan kekerasan, sehingga tercipta lingkungan yang aman dan nyaman untuk semua warga.

Sayangnya, berbarengan dengan majunya paradigma masyarakat tentang nilai kebenaran ini, juga masih terdapat nilai-nilai “adat” atau lebih tepatnya disebut “kebiasaan buruk” masyarakat dalam penyelesaian sebuah masalah, yang secara tak tertulis mungkin bisa berbunyi “jika seseorang tak menghormatimu, maka kau boleh menyakitinya, bahkan jika perlu habisi nyawanya”.

Kita patut menanyakan dalam diri kita masing-masing, apa sebabnya “kebiasaan buruk” ini masih saja kita temui, dan sebenarnya bagaimanakah cara yang terbaik agar ini semua bisa berakhir, bukankah perilaku anarkisme merupakan bentuk rendahnya tingkat pendidikan dan buruknya kesadaran akan perdamaian yang agama ajarkan.

Oleh: MS

Written by 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *