DESKRIPTIF ILMIAH PEMERINTAHAN PRESIDEN JOKO WIDODO

Alanwarpos.com – Kehadiran pemerintahan dan keberadaan pemerintah adalah sesuatu yang menjadi keharusan bagi proses kewajiban dalam kehidupan masyarakat. Sejarah telah mebuktikan bahwa masyarakat sekecil apapun kelompoknya, bahkan sebagai individu sekalipun membutuhkan pelayanan pemerintah. Oleh karena itu kehidupan sehari-hari erat hubungannya dengan fungsi-fungsi pemerintah di dalamnya. Pemerintahan adalah Besctuurvoering atau pelaksanaan tugas pemerintah, sedangkan Pemerintah adalah organ atau alat yang menjalankan pemerintahan. Pemerintahan sebagai kelengkapan negara dapat diartikan secara luas mencangkup semua alat kelengkapan negara, yang terjadi dari cabang-cabang kekuasaan eksekutif, legislatif, dan yudisial atau alat-alat kelengkapan negara lain yang bertindak untuk dan atas nama negara.

Sistem pemerintahan yang ada di dalamnya, tidak lepas dari proses berpikir pemimpinnya untuk memajukan pemerintah yang dipimpinnya. Begitu pula masa kepemimpinan Presiden Joko Widodo dua periode ini. Banyak pertentangan-pertentangan yang ada di dalamnya, mulai dari kritikan, makian, dan lain sebagainya. Hal ini barangkali karena adanya ketidakpahaman masyarakat atas konsep-konsep yang dibangun oleh Bapak Jokowi. Butuh waktu dan tindakan-tindakan yang intensif dilakukan untuk membuka daya pikir masyarakat, sehingga masyarakat paham dan sejalan untuk menyukseskan sistem pemeritahan yang dibangun.

Masyarakat awam tidak ada di Indonesia, namun masyarakat sangat minim untuk mempelajari Pengetahuan dan Ilmu khususnya dalam ruang lingkup pemerintahan. Banyak masyarakat yang diprovokatori oleh sebagian kelompok-kelompok keras untuk menentang adanya pemerintahan Bapak Jokowi. Sehingga ada masyarakat yang kerjaannya mengkritik tanpa adanya landasan secara teoretik. Di era yang serba demokrasi ini memang bebas dalam menyampaikan aspirasi, namun harus ada landasan yang memeberi solusi. Membuka jalan pikiran harus melalui logika-logika yang sudah terasah dengan membaca serta pengalaman-pengalaman dalam beretorika. Hal ini tidak hanya berlaku pada masyarakat kecil, namun juga berlaku bagi aparatur pemerintah serta pejabat-pejabat pemerintah Indonesia. Mereka harus mampu menganalisa melalui logika-logika deskriptif ilmiah, sehingga tugasnya tidak hanya melaksanakan perintah dari atasan serta menerima gaji, namun harus mampu menganalisa tugas-tugas yang diberikan, sehingga tidak berdampak buruk di mata masyarakat.

Pola pikir yang diterapkan oleh Bapak Joko Widodo merupakan bagian dari faham Apriori Masa Depan seperti apa yang dikatakan Iamanuel Kant berdasarkan analisa logika. Proses pemikiran-pemikirannya tidak berdiam di tempat, melainkan berpikir bagaimana keadaan yang akan terjadi ke depannya setelah apa yang dilakukan sekarang. Seperti pembangunan infrastruktur yang didahulukan. Dalam konteks Ilmiah, hal tersebut sepaham apa yang dikatakan oleh Imanuel Kant di atas, persepsinya jika infrastruktur sudah terbangun maka akses-akses akan mudah dan cepat, sehingga tidak menimbulkan kerugian-kerugian yang sifatnya komersial bagi pemerintah dan tatakelola yang ada di masyarakat. Dalam kontekstualnya juga tidak lepas dari waktu. Seperti apa yang dikatakan Aristoteles, “satu detik waktu yang terlewatkan sia-sia, maka akan menjadi malapetaka”. Jika dipahami dan dianalisa konteks tersebut dengan adanya percepatan pembangunan infrastruktur sangat tepat.

Sistem pemerintahan yang dilakukan oleh Bapak Jokowi, juga seperti masa-masa kepemimpinan Muhammad Al-Fatih yang merupakan pemimpin Daulah Utsmani. Masa kepemimpinannya banyak toleran-toleran, kepeduliannya terhadap rakyat kecil, dan keadilan yang diterapkannya. Rasa persaudaran yang dibangun terhadap rakyat-rakyatnya sungguh luar biasa. Begitu pula pada masa pemerintahan Bapak Jokowi, kepedulian terhadap rakyat kecil tidak memandang apapun. Indonesia, masyarakatnya tidak hanya satu suku, melainkan terdiri dari berbagai suku. Indonesia dikenal dengan Bangsa yang majemuk, di mana semua suku, ras, agama, dan budaya ada di Indonesia. Semua bersatu dalam semboyan, “Bhineka Tunggal Ika” yang mempunyai maksud berbeda-beda tapi tetap satu. Indonesia juga merupakan negeri yang kaya raya akan sumber daya alam dan sumber daya manusia, persatuan dalam perbedaan sudah menjadi ciri khas Indonesia. Maka dari itu, konsep pembangunan yang dilakukan oleh Bapak Joko Widodo yaitu “Pemerataan,” yang merupakan bagian penting di masyarakat. Pemerataan tersebut sangat tepat karena semua masyarakat bisa merasakan hasil dari kekayan Indonesia, bigitu pula dalam konteks pemerataan pembangunan infrastruktur dan pemberdayaan manusia di setiap wilayah Indonesia.

Penulis : Hayyul Mb

Written by 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *