Miris, Cerita Gaji Guru yang Di potong Di SMP 3 Geger

Bangkalan, Al Anwar pos.com. Wahdan Rusdy Amri nama lengkapnya, salah satu guru SMP 3 Geger Bangkalan, Madura, Jawa Timur. Ia menjadi guru honorer di sekolahan yang terletak di Desa lerpak tersebut sejak tahun 2011. Namun ia terpaksa harus berhenti mengajar dari SMP 3 Geger pada bulan Januari 2019.


Wahdan, sebagai pengampu mata pelajaran Bahasa ingris tersebut, memilih keluar dari SMP 3 Geger karena sangat terpaksa.
Menurutnya, banyak kebijakan kepala sekolah yang sangat merugikan para guru, utamanya guru honorer. Diantara kebijakan kepala sekolah adalah diturunkannya Gaji para guru. 


“Gaji kami, para guru honorer dipotong, dalam satu bulan kadang kami hanya dapat Rp. 700.000”  ungkap peria asal Tonaan tersebut. 


Alumni STKIP PGRI Bangkalan tersebut menambahkan, bahwasanya besaran gaji ngajar di SMP 3 Geger pada masa kepala sekolah Ainur, setelah dikalkulasi dengan jarak tempuh 50 KM dari rumahnya di Bangkalan ke sekolah SMP 3 Geger, tidak cukup pada bensinnya, apalagi untuk keperluan sehari hari anak dan istrinya.


“Untuk membeli bensin perjalanan ke sekolah saja tidak cukup, apalagi buat kebutuhan sehari hari anak dan istri saya, sangat tidak cukup”. Ceritanya kembali.


Lebih dari itu, Tunjangan Insentif yang dikabarkan akan diberi oleh pemerintah daerah kepada guru sehrusnya bisa menjadi motivasi semangat Guru dalam mengajar, malah yang terjadi sebaliknya. Karena setelah para Guru membuat rekening Bank Jatim, kepala sekolah minta agar mengumpulkan Buku tabungan tersebut skaligus ATM nya.


“Tunjangan Insentif Guru dicairkan sendiri oleh kepala sekolah, setelah itu kami hanya diberi sekitar Rp. 700.000 sebagai guru honorer bukan penerima insentif,  meski nyatanya insentif ini ada yang dapat tiga juta”. Ceritanya lebih lanjut.


Lebih ironisnya lagi, wahadan yang sudah lama tidak mengajar di SMP tersebut, ternyata ada kucuran dana atas nama dirinya tiap bulan. Bahkan, setelah ia menduplikat buku rekening Bank Jatim,  ternyata masih ada uang insentif guru yang masuk ke rekening itu dan mungkin diambil sendiri oleh kepala sekolah, karena dirinya tidak pernah pegang rekening dan menerima uang tersebut.


“Setelah saya berhenti mengajar, rupanya nama saya dan status saya sebagai guru disana dimanfaatkan oleh kepala sekolah.  Rekening saya yang dipegang kepala sekolah tetap ada uang yang masuk. Setelah saya duplikat diluar sepengetahuan kepala sekolah, ternyata dalam waktu 6 bulan uang tersebut yang dicairkan kepala sekolah sekitar Rp. 8.310.901.00, dan saya tidak tahu kemana larinya uang itu”. Ungkapnya kembali.

Written by 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *