Pemerintah Bangkalan Omong Kosong, Soal Mengatasi Sampah Perspektif APBD

Bangkalan,alanwarpos.com – Masyarakat Desa Buluh, Kecamatan Socah, Kabupaten Bangkalan resmi menutup dan menyegel Tempat Pengelolaan Akhir (TPA) sampah,  pada hari Sabtu (22/02). 

Meski Bupati Bangkalan dan Jajaran Forkopimda sendiri yang datang ke TPA tersebut untuk melakukan kordinasi dan ingin membuka kembali TPA, masyarakat tetap menolaknya. 

Dalam beberapa media diberitakan, bahwasanya masyarakat Desa Buluh sudah merasa tidak kuat dengan bau sampah dan tercemarnya lingkungan di sekitarnya, sehingga mereka bersikukuh menutup satu satunya TPA yang ada di Kabupaten Bangkalan ini. Alasan lain sudah banyak berita yang dimuat di media online, hehehe, silahkan dicari. 

Dalam tulisan ini, penulis tidak sedang menyoroti penolakan masyarakat atau menulis ulang keluh kesah Masyarakat sekitar TPA. Tapi lebih pada, seperti apa sih keseriusan pemerintah dalam menangani persoalan sampah di Bangkalan, serta seperti apa bentuk perhatian pemerintah Bangkalan terhadap TPA dan Masyarakat sekitar jika dilihat dari kebijakannya. Apakah kebijakan pemerintah Bangkalan ada keberpihakan terhadap urusan persampahan dan Masyarakat sekitar TPA yang terdampak pembuangan sampah ini?. 


Jangan sampai masyarakat Desa Buluh dan sekitarnya hanya dianterin sampah setiap hari, tapi tidak diberi perhatian, jangan anggap mereka ini juga bagian dari sampah masyarakat yang pantas disuguhi sampah dari kota.
Hemat penulis, harus ada perhatian khusus untuk mereka agar tidak terjadi gejolak seperti ini.  

Baiklah, bicara tentang persampahan dan sejenisnya, tentu tidak lepas dari kinerja Dinas Lingkungan Hidup di Kabupaten Bangkalan. 

Ketika melihat postur anggaran dan alokasi anggaran pada Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bangkalan, sebagaimana yang sudah ditetapkan dalam Perda APBD Bangkalan tahun 2020, sepertinya Masyarakat buluh jangan terlalu berharap mendapatkan solusi yang cepat dari Pemda Bangkalan Tahun 2020 ini. Takutnya nanti sakit hati karena menunggu sesuatu yang tak pasti. 

Setelah dua hari penulis melakukan analisis terhadap anggaran DLH Bangkalan TA 2020, rupanya penulis tidak menemukan rencana anggaran untuk TPA desa buluh, semoga saja ini karena keterbatasan dokumen yang saya miliki. Tapi sekalipun meleset tidak akan jauh, Hehehe.

Total belanja tidak langsung Dinas Lingkungan hidup lebih tinggi dari belanja langsungnya yang mencapai Rp. 15.245.477.005,00, sedangkan belanja langsung sebesar Rp. 14.151.533.700,00.  

Dari beberapa program dan kegiatan di DLH, menurut penelusuran penulis, sebenarnya banyak yang kurang subtansial. 

Kelihatannya, mereka lebih banyak memikirkan urusan dapur mereka sendiri dan mungkin juga bagi bagai kuenya pada siapa saja. Hingga tampak omong kosong ketika pemda berjanji untuk mengatasi sampah di Bangkalan.

Anggaran langsung yang ada di DLH larinya paling banyak pada program kegiatan: 

1. Pelayanan Kesekretariatan dan urusan perkantoran mencapai Rp. 2.988.358.200,00. 

2. Pengelolaan Ruang Terbuka Hijau (RTH) mencapai Rp.2.519.643.400,00. 

3. Oprasional dan Pemeliharaan Sarpras serta alat kerja pertamanan Rp. 1.468.654.200,00. 

4. Pengelolaan Sampah Limbah B3 mencapai Rp. 6.015.377.900,00. 

Selebihnya, banyak anggaran di DLH untuk program dan kegiatan remeh temeh kayak seremonial saja.

Jadi menurut hemat penulis, Bupati sangat berat di tahun 2020 ini untuk memberikan solusi masalah TPA. Dan sangat disayangkan pula, pada tahun 2019 lalu, ada anggaran sebesar 500 juta di DLH yang diperuntukkan TPA,  tapi ini tidak diserap. Melihat ini saja, sudah tampak pemerintah Bangkalan tidak serius menangani TPA di Desa buluh.


Jika melihat postur anggaran di DLH pada tahun 2020 ini, penulis mengatakan wajar masyarakat menutup TPA di Desa Buluh, karena anggaran tidak ada yang ditarik kesana, mereka hanya diberi sampah bukan anggaran. Sehingga mereka tetap saja tidak bisa bangkit dan berkembang. 
Coba beberapa pos anggaran seperti peningkatan peran serta masyarakat dalam pengendalian pencemaran dan kerusakan lingkungan yang anggarannya sebesar Rp. 259 juta ini kasihkan ke desa Bulu. Beri mereka program untuk berkreasi dan mengolah sampah di Desanya. Paling tidak, untuk mengobati bau sampah yang selama ini menyengat hidung masyarakat buluh dan sekitarnya. 

Penulis : Ahmad Annur (Ativis Penggerak Desa)

Written by 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *